Rabu, 19 Juli 2017

NETIZEN BIJAK: OJEK ONLINE DITOLAK? (Part 1)



Baru-baru ini kota kelahiran aku (Purwokerto), yang digadang-gadang beberapa tahun ke depan bakal jadi kota yang, yaaaaa bisa dibilang metropolitan lah, baru aja kedatangan tamu sebuah inovasi yang cukup keren dan meringankan manusia (tapi bisa jadi manusia lain rugi) yaitu Ojek Online yang terkenal helmnya ijo kekinian itu.
 
Banyak sekali netizen maupun masyarakat Purwokerto yang welcome dengan datangnya Ojek Online ini. Tapi di sisi lain, Pemerintah tidak mengizinkan Go-Jek beroperasi. Lha, kok bisa? Berita terbaru bahkan ada yang sampe bikin petisi buat Pemerintah untuk mendukung Ojek Online ini beroprasi. Biasa laaaaah, habis itu pasti ada yang pro kontra.

 Oke, disini aku mau ngajak kalian buat jadi netizen yang bijak buat menanggapi hal tersebut. Coba sebelum kalian membuat sebuah Judgement, lihatlah permasalahan ini dari semua sisi tapi jangan kejauhan ya, nanti jaraknya nggak terjangkau ojek online loh. Disini aku mau ngerangkum komentar-komentar netizen yang lumayan berbobot (maybe) yang sudah beruara mendukung adanya Ojek Online.

Komentar netizen:
1. Ngapain coba di larang beroprasi, kayak gini terus kapan kota kita mau maju.

Tanggapanku:
Siapapun yang menganggap sebuah kota atau negara maju karena ‘mendapatkan’ layanan’ dari ‘tamu’,… kita pikirin bareng-bareng yuk.

Anggep aja kalian lagi ngerjain skripsi. Mahasiswa adalah masyarakatnya, dosen maupun kampus adalah pemerintahnya. Kayaknya semua orang yang ngerjain skripsi pasti pernah revisi ya, bahkan nggak di accept sama dosen, abis itu ngulang. Terus? Macem-macem, ada yang abis itu males ngerjain karena nggak tau harus gimana lagi, ada yang terus nyari jalan lain, biar cepet di acc dosen. Toh, pada akhirnya kalian bisa di acc dosen, bisa lulus, karena kalian sendiri kan? Dosen cuma mengarahkan dan pastinya untuk skripsimu yang lebih baik. Yang ngulur waktu siapa? Kamu sendiri lah. Yang nggak mau maju siapa? Kamu sendiri lah.

Sama kayak gimana ngebuat kota kita maju. Pemerintah cuma sebagai fasilitator dan ketika pemerintah nggak ngasih fasilitas Ojek Online, terus? Kota kita jadi nggak mau maju gitu? Cobaaaaa, kalian bisa nggaaaak buat sesuatu yang bikin kota kalian majuuuu? Macem kalian bikin skripsi, hayo cobaaaaak. Bisa nggaaaak?

Menurutku, sebuah kawasan bisa maju karena masyarakatnya itu sendiri. Fasilitas pelayanan bakal ada karena masyarakatnya yang bisa bijak untuk menentukan arah, gimana kota kalian bakal dikemas. Kalo masyarakatnya udah punya konsep yang hakiki, sampaikanlah ke pemerintah semacam kalian konsultasi ke dosen. Lha, ini malah ngejudge pemerintah nggak pengen kotanya maju.

Coba deh, kurangi pemikiran negatif tentang kota kalian, kalian mungkin harus lebih banyak bertanya-tanya tentang sebuah kota secara esensial sebelum masuk ke pemikiran sebuah kota secara komersial. Selain itu, belajar juga tentang kota-kota lain supaya kita bisa tau, baiknya kota kita mau dikemas kayak gimana.

Kalo di Purwokerto ada Ojek Online, emang biar apa? Biar kendaraan kalian bisa nganggur di rumah? Hah? Biar nggak macet? Lha, sama aja kali. Malah makin banyak polusi. Mending jalan kaki kayak orang-orang yang mau maju di negara maju. Kota Purwokerto kan kecil. Biar kalo lagi pengen makan tapi mager bisa minta delivery Ojek Online ya? Makan-makanan luar mulu, kapan masaknya? Calon suami juga cepet bosen kali sama cewek yang suka beli delivery.

Yaaaa, menurutku orang yang komentar di poin 1 itu, orang yang menganggap semakin terlayani, semakin kota itu maju, semakin malas lah kita. Menurutku dia baru berfikir secara komersial tapi belum mikir secara esensial. Ya nggak apa-apa lah ya, biarkan saja. Toh cuma komen, bukan demo. Hehehe… tetep stay positif aja kalo mau jadi netizen tuh, kan lumayan dapet pahala. Jaman sekarang jarang soalnya, ada netizen yang berfikir positif.

Sekian dulu yaaa,
 Bakal ada part 2, tungguin aja.


 Leny


NB: Ini blog udah lama nggak diisi tulisan, jadi kalo ada konten yang sedikit disturbing, mohon maaf ya. Aku saranin sih, nggak usah buka-buka sampe dalem, biar nggak nyesel.

Jumat, 16 Juni 2017

Let Me Tell You About The Special

Hey.

I just visit and open this blog (again) after a long years. It's so memorable.

And I found something beautiful in here. You know what? I think I'm really cool person, in my version. I knew it, I'm different, so I'm special, kinda :)

This blog has been 5 years (maybe). Do you believe that everything, everyone has to change? And I changed. But I think I'm still like Leny in 5 years ago.

This blog has strories about my feelings. And those feelings seem like my feelings right now. I think when I have some problems to survive in the lovely Earth, I'll do something like what I did in 5 years ago.

By the way, hallo, my name is Leny, and I'll try to tell about my feelings after a couple years I didn't write. Why? Because my feeling is complicated. No, it's not about the love story of a young couple, even I don't have a boyftriend.

It's about my life.


Kamis, 05 Maret 2015

REGRET.

Perbedaan pendapat itu pasti pada akhirnya ada yang benar dan ada yang salah. Mungkin banyak orang bilang, semakin dewasa kita semakin mengerti jalan mana yang akan mengantarkan kita ke puncak ataupun mana yang akan menjatuhkan kita ke jurang. Tapi untuk saya, dewasa adalah disaat dimana kita diperkenalkan ilusi tentang yang baik menjadi yang membuat terpuruk dan yang menurut kita menjatuhkan, justru akan melayangkan kita ke langit.
 
Source: tumblr.com
                Tentang sebuah pilihan dan masa depan. Orang-orang terdekat menjadi bagian yang paling mempengaruhi untuk menentukan dua hal itu.

Untuk sebuah pilihan tak jarang, mereka pasti memberikan sebuah jalan yang menurut kita sempit, dan kita memilih yang mempunyai jalan lebih besar. Ini tentang bakat. Jalan yang sempit itu sedikit memberikan peluang untuk mengembangkan bakat dan tidak sesuai dengan kesenangan yang kita inginkan. Sementara yang besar adalah peluang yang besar untuk kita bisa mengembangkan bahkan memanfaatkan bakat disertai senyum simpul.

                Untuk sebuah masa depan, kita akan mengerti kadang suatu pilihan yang kita anggap sempit adalah masa depan yang luas bahkan lebih dari sekedar senyum simpul, kebahagiaan.
                Saya belajar lagi tentang nikmatnya menjalani hidup. Jangan pernah memaksakan suatu pilihan demi masa depan seseorang. Sekalipun itu salah, sekalipun itu jahat, biarkanlah. Suatu saat nanti mereka akan lebih mengerti jalan yang benar itu karena mereka merasakan hal yang salah. Dan merekan akan lebih mengerti tentang indahnya hidup.

                Penyesalan. Suatu pelajaran indah untuk mengenang.
                Selalu percaya bahwa keadaan akan selalu memberikan kesempatan untukmu menjadi lebih baik, untuk masa depan yang lebih baik.

Kamis, 03 Juli 2014

KARENA PARA FANATISME UNTUK CALON PRESIDEN

H-6 menuju Pemilihan Umum calon presiden. Okeeeeee, disini saya dalam posisi yang untuk pertama kalinya harus bisa kritis menelaah setiap pemberitaan tentang calon presiden dan calon wakil presiden. Kenapa? Karena saya pertama kalinya milih presiden untuk independensi sebuah negara. Uyeaaah!
Apa yang saya dapet selama saya berpartisipasi dalam menjadi stalker calon presiden?

Yang pertama, FANATISME.
Mungkin saya ga bakal ngerti jauh tentang berita kedua calon presiden kalo nggak ada orang-orang fanatisme. Saya dapet banyak orang yang fanatis terhadap calon presiden yang mereka pilih di sosial media.

Cara mereka dominan sama, MEMBANDINGKAN. Mereka share berita tentang sisi negatif lawan dari calon presiden yang mereka pilih, dan mereka komen sisi positif dari calon presiden yang mereka pilih. Bahkan ada yang lebih parah. Mereka mencaci calon presiden.

'Jangan pernah sekalipun menjelekkan orang-orang yang belum kamu tahu benar tentang keadaan dan kenyataannya. Kamu punya pilihan, simpanlah sendiri. Boleh berpendapat, tapi tak perlu mengumbar berlebihan, apalagi mengolok-olok. Itu tak terhormat. Dan itu tak menghormati' - Seorang Purnawirawan TNI.

Saya inget banget pesen itu. Seolah saya harus punya etika ketika ingin menyampaikan suatu pendapat. Jangan asal mengolok-olok.

Dan fanatisme dominan yang saya lihat inilah tentang berpendapat tanpa etika.
Balckcampign. Atau Kampanye Hitam. Saya nggak ngerti bedanya blackcampaign dengan apa yang barusan saya ceritain.

Harus nggak sih, ketika kalian sharing berita itu bagaimana kalian lihat hal positif dari setiap calon presiden dan tak ada perbandingan antara MANA YANG LEBIH BURUK?

Yang kedua, YANG LEBIH BURUK.
Dari kedua kandidat, saya nggak bakal menyinggung mana yang lebih buruk. Pasti, kedua kadidat nggak bakal sempurna, ada buruknya.

Contoh sederhananya nih ya, Bapak Jokowi dulu pernah jadi walikota Surakarta (Tapi itu dulu si, pas saya belum tinggal di Solo). Terus belum selesai masa jabatannya, beliau terpilih menjadi walikota Jakarta. Dan belum selesai masa jabatannya, beliau maju sebagai kandidat calon presiden nomor urut dua.

'Jika belajar, janganlah setengah-setengah. Apalagi mengerjakan tugas atau ujian' - Buku Ppkn kelas 2 SD
Kalo Bapak Jokowi kuliah semacam itu, nilai Bapak Jokowi cuma B, itu pun sebenernya dapet nilai tambah karena berdedikasi baik.

Bapak Prabowo, kenapa anda memakai baju putih dengan logo garuda di blok merah?
Sebenernya ini saya udah curiga dari awal sama yang mendesain baju Bapak Prabowo. Bapak, itu desainnya jelek banget, pak.

Cerita pengalaman dikit, saya pernah ikut pramuka waktu SMP. Dan satu hal yang paling sakral adalah hormatilah setiap lambang yang ada di pramuka. Satu kali bendera pramuka nyentuh tanah, satu porsi (10 kali push up), bendera merah putih, tiga porsi. Dan jangan pernah merubah apapun lambang pramuka kita.

Lambang Pramuka aja nggak boleh di apa-apakan. Kenapa lambang negara kita di blok merah? Bukankah itu suatu tindakan tak hormat?
Itu sih, contoh kecil yang saya liat dan saya simpulkan dengan pikiran awam saya.

Dan yang ketiga adalah YANG LEBIH BAIK.
Untuk mana yang lebih baik, kita bisa melihat mereka dalam debat calon presiden dan wakil presiden.
Kalian cukup liat aja gimana kedua calon merespon dan jawaban apa yang dilontarkan. Kita bisa tau, mana calon pemimpin yang sesuai kriteria kita.

Saya tau, Bapak Jokowi hebat banget dapet banyak penghargaan sebelum jadi kandidat calon presiden. Dan yang paling keren adalah menjadi walikota terbaik ketiga di dunia. Pak, itu keren banget.

Bapak Prabowo pun. Waktu saya beberapa hari pulang ke Purwokerto, saya diceritain Bapak tentang Pak Prabowo. Kebetulan memang Bapak sempet ikut bertugas di Timor Timur juga saat itu. Saya suka sekali dengan ketegasan Pak Prabowo. Bapak sangat sabar dan bijak dalam menanggapi begitu banyak cercaan dan berita-berita yang banyak membuat gelisah rakyatnya. Tapi bapak menanggapi dengan tenang dan rapi.

Cerdaslah memilih, dewasalah menanggapi dan berpendapat. Seorang presiden bukanlah ‘mana yang lebih buruk, maka kami singkirkan. Tapi, mana yang lebih baik, maka kami angkat.’

Inget LUBER JURDIL, Langsung, Umum, Bebas, Rahasiaaaaaaaaaa, Jujur, dan Adiiiil.


LENYINDAH :)