Tampilkan postingan dengan label Kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juli 2017

NETIZEN BIJAK: OJEK ONLINE DITOLAK? (Part 2)



Kalo kemarin kita udah ngomongin tentang netisen yang merasa bahwa kotanya bakal maju kalo kita bisa menerima segala kemajuan yang lagi nge-hype. Sekarang kita mau ngomongin komentar lain yang patut untuk di ulas. Jadi komentarnya gini nih,
 
Komentar Netizen:
2. Lagian kalo dilarang karena menggusur mata pencaharian ojek konvensional atau angkot. Itu nggak masuk akal. Ojek Online sama angkot itu udah beda pasar, so pasti mereka bakal tetep stay di pasarnya. Targetnya juga pasti udah beda.

Tanggapanku:
Ada benernya juga sih komentar ini. Yang aku bayangin, mungkin angkot bakal tetep menjadi angkot yang diminati oleh ibu-ibu dan embah-embah yang mau ke pasar. Dan ojek online akan tetap menjadi ojek online yang supirnya nyamperin penumpang karena manggil lewat aplikasi dan yang naik kalangan anak muda karena mereka punya smartphone dan bisa mengaplikasikan cara manggil ojek online.

Tapiiiiii, akhirnya kesenjangan sosial terjadi. Suatu saat bakal ada komunitas angkot yang demo buat ngusir komunitas ojek online. Dan netizen kembali berkomentar, ‘Salah siapa nggak mau maju!’. Di kota yang sekarang aku tinggali, ada sekitar 6 Mall dan banyak cabang department store. Tapi pasar tetep laku tuh. Iya laku, cuma buat komunitas orang-orang pasar doang yang masih mau bertahan buat belanja di Pasar Tradisyonel. Di sini juga ada kejadian pasar tradisyonel mati. Akhirnya, inisitif dari pemerintah buat menghidupkan kembali pasar tradisyionel adalah dengan cara membuat creative space buat anak muda di pasar tradisyonel. Biar apa? Biar anak muda nggak buta sejarah. Sejarah yang akhirnya menjunjung kodrat Mall lebih baik baik ketimbang pasar tradisyonel.

 Well, tapi komentar nomor 2 diatas itu tetep bener karena angkot tetaplah angkot dan ojek online tetaplah ojek online. Supir angkot bakal mempertahankan kodratnya sebagai supir angkot dan seorang driver ojek online gengsi kalo beralih jadi supir angkot. Mereka sama-sama punya kelebihan dan kekurangan yang harusnya pemerintah bisa terima dan nggak asal melarang. Asal melarang? Masa sih, Pemerintah asal melarang?

Terkait tentang melarang, sebenernya bukan melarang sih. Pemerintah hanya menunda oprasi ojek online. Karena apa? Katanya sih mematikan mata pencaharian ojek konvensional dan angkot. Tapi itu udah terjawab berkat komentar netizen nomor 2.

Iya, Pemerintah nggak asal memutuskan kok. Ternyata perusahaan Ojek Online ini belum minta izin ke pemerintah. Ya diurus dulu laaaah perizinannya baru bisa beroperasi. Kan nggak sopan masuk rumah orang nggak ketuk pintu, ya walaupun orang rumah udah pasti welcome, tetep aja nggak sopan. Selain itu juga karena Pemerintah digadang-gadang punya inovasi baru. dan nggak cuma tukang ojek yang digandeng, sopir angkot juga. Tukang ojek tetep jadi tukang ojek, sopir angkot bakal tetep jadi sopir angkot. Kayak gimana sih inovasinya? Who Knows?

Aku sih ngebayanginnya, bakal ada aplikasi yang dibuat oleh pemerintah daerah buat bisa kayak ojek online. Malah lebih simple. Tukang ojek dan sopir angkot daftar ke pemerintah buat jadi driver online, terus nanti 100% uang yang di dapet ya buat si driver itu. Terus kalo angkot, dia sistemnya charter online, kalo ada yang mau nyarter angkot (biasanya ibu-ibu kondangan) bisa tuh pake sistem online. Itu bayanganku siiih, jadi tetep konvensional tapi dengan cara online, gitu. Ya kalo salah, ya maafin aja ya. Namanya juga positif thinking.

Tapi tentang anggaran, pasti bakal besar anggarannya. Ya begitulah pengorbanannya untuk mencapai suatu kota dengan predikat smartcity. Pemerintah emang harus berani berinovasi dan bertindak dalam memfasilitasi masyarakatnya (tapi bukan menerima inovasi lho ya). Di sisi lain, pemerintah juga harus siap mendengarkan setiap aspirasi masyarakat entah yang membangun atau bahkan menjelekkan kinerja mereka.

Well, nggak usah di usut sampe dalem ya, nanti soalnya negatif thinking-nya bakal keluar. Apapun keputusannya, anggap aja itu yang terbaik dan emang itu sudah dipikirkan secara matang. So, sekalipun nggak jadi beroperasi si ojek online ini, toh nggak bakal merugikan kalian. Kalian tetep tinggal di rumah, makan juga bisa beli di warung sebelah, nganter barang juga masih bisa sendiri, eh ternyata pas nganter barang ketemu anaknya, yang cantik itu tuuuh, laaah malah keterusan ngobrol, diseriusin laaaah kalo suka. Sedikit tips, jangan bilang cita-citanya pengen jadi driver ojek online, bilang aja pengen jadi driver rumah tangga kita berdua, gitu.

Oh iya, kalo kalian berpikir aku ngebelain pemerintah atau apapun itu, di tulisan aku ini nggak ada maksud buat belain siapapun, cuma memposisikan diri sebagai masyarakat dan bagaimana aku harus menanggapi sebagai masyarakat.

Sekian dulu yaaa.
Leny

NB: Ini blog udah lama nggak diisi tulisan, jadi kalo ada konten yang sedikit disturbing, mohon maaf ya. Aku saranin sih, nggak usah buka-buka sampe dalem, biar nggak nyesel.

Rabu, 19 Juli 2017

NETIZEN BIJAK: OJEK ONLINE DITOLAK? (Part 1)



Baru-baru ini kota kelahiran aku (Purwokerto), yang digadang-gadang beberapa tahun ke depan bakal jadi kota yang, yaaaaa bisa dibilang metropolitan lah, baru aja kedatangan tamu sebuah inovasi yang cukup keren dan meringankan manusia (tapi bisa jadi manusia lain rugi) yaitu Ojek Online yang terkenal helmnya ijo kekinian itu.
 
Banyak sekali netizen maupun masyarakat Purwokerto yang welcome dengan datangnya Ojek Online ini. Tapi di sisi lain, Pemerintah tidak mengizinkan Go-Jek beroperasi. Lha, kok bisa? Berita terbaru bahkan ada yang sampe bikin petisi buat Pemerintah untuk mendukung Ojek Online ini beroprasi. Biasa laaaaah, habis itu pasti ada yang pro kontra.

 Oke, disini aku mau ngajak kalian buat jadi netizen yang bijak buat menanggapi hal tersebut. Coba sebelum kalian membuat sebuah Judgement, lihatlah permasalahan ini dari semua sisi tapi jangan kejauhan ya, nanti jaraknya nggak terjangkau ojek online loh. Disini aku mau ngerangkum komentar-komentar netizen yang lumayan berbobot (maybe) yang sudah beruara mendukung adanya Ojek Online.

Komentar netizen:
1. Ngapain coba di larang beroprasi, kayak gini terus kapan kota kita mau maju.

Tanggapanku:
Siapapun yang menganggap sebuah kota atau negara maju karena ‘mendapatkan’ layanan’ dari ‘tamu’,… kita pikirin bareng-bareng yuk.

Anggep aja kalian lagi ngerjain skripsi. Mahasiswa adalah masyarakatnya, dosen maupun kampus adalah pemerintahnya. Kayaknya semua orang yang ngerjain skripsi pasti pernah revisi ya, bahkan nggak di accept sama dosen, abis itu ngulang. Terus? Macem-macem, ada yang abis itu males ngerjain karena nggak tau harus gimana lagi, ada yang terus nyari jalan lain, biar cepet di acc dosen. Toh, pada akhirnya kalian bisa di acc dosen, bisa lulus, karena kalian sendiri kan? Dosen cuma mengarahkan dan pastinya untuk skripsimu yang lebih baik. Yang ngulur waktu siapa? Kamu sendiri lah. Yang nggak mau maju siapa? Kamu sendiri lah.

Sama kayak gimana ngebuat kota kita maju. Pemerintah cuma sebagai fasilitator dan ketika pemerintah nggak ngasih fasilitas Ojek Online, terus? Kota kita jadi nggak mau maju gitu? Cobaaaaa, kalian bisa nggaaaak buat sesuatu yang bikin kota kalian majuuuu? Macem kalian bikin skripsi, hayo cobaaaaak. Bisa nggaaaak?

Menurutku, sebuah kawasan bisa maju karena masyarakatnya itu sendiri. Fasilitas pelayanan bakal ada karena masyarakatnya yang bisa bijak untuk menentukan arah, gimana kota kalian bakal dikemas. Kalo masyarakatnya udah punya konsep yang hakiki, sampaikanlah ke pemerintah semacam kalian konsultasi ke dosen. Lha, ini malah ngejudge pemerintah nggak pengen kotanya maju.

Coba deh, kurangi pemikiran negatif tentang kota kalian, kalian mungkin harus lebih banyak bertanya-tanya tentang sebuah kota secara esensial sebelum masuk ke pemikiran sebuah kota secara komersial. Selain itu, belajar juga tentang kota-kota lain supaya kita bisa tau, baiknya kota kita mau dikemas kayak gimana.

Kalo di Purwokerto ada Ojek Online, emang biar apa? Biar kendaraan kalian bisa nganggur di rumah? Hah? Biar nggak macet? Lha, sama aja kali. Malah makin banyak polusi. Mending jalan kaki kayak orang-orang yang mau maju di negara maju. Kota Purwokerto kan kecil. Biar kalo lagi pengen makan tapi mager bisa minta delivery Ojek Online ya? Makan-makanan luar mulu, kapan masaknya? Calon suami juga cepet bosen kali sama cewek yang suka beli delivery.

Yaaaa, menurutku orang yang komentar di poin 1 itu, orang yang menganggap semakin terlayani, semakin kota itu maju, semakin malas lah kita. Menurutku dia baru berfikir secara komersial tapi belum mikir secara esensial. Ya nggak apa-apa lah ya, biarkan saja. Toh cuma komen, bukan demo. Hehehe… tetep stay positif aja kalo mau jadi netizen tuh, kan lumayan dapet pahala. Jaman sekarang jarang soalnya, ada netizen yang berfikir positif.

Sekian dulu yaaa,
 Bakal ada part 2, tungguin aja.


 Leny


NB: Ini blog udah lama nggak diisi tulisan, jadi kalo ada konten yang sedikit disturbing, mohon maaf ya. Aku saranin sih, nggak usah buka-buka sampe dalem, biar nggak nyesel.